Kenapa kau lakukan ini padaku ?
Kenapa kau lakukan ini begitu mudahnya ?
Kau membuatku sulit tersenyum karena ?
Kau membuatku sulit bernafas ?
Kenapa kau langgar semua janji kita ?
Kenapa kau lakukan ini padaku ?
Kau langgar semua janji kita
Ini sulit untuk ku membayangkan
Ini seperti dusta, dusta tiada akhir
Ini yang membuatku belajar tentang kebencian
Mungkin aku yang salah, atau kita sama saja
Namun apapun yang kau katakan
Aku takkan pernah percaya lagi
Yang harus kukatakan selamat tinggal
Kita lebih baik seperti ini.
Minggu, 04 Mei 2014
Sabtu, 19 April 2014
Cerita saya dengan Prof. Dr. Mulyadi, Apt
Prof. Dr. Mulyadi, Apt
Tempat
tanggal lahir : Klaten, 10 Maret 1945
Wafat : Yogyakarta, 18 April 2014
Di hari Jumat tanggal 18 April 2014 telah
meninggal Dosen Favorit saya. Badannya tinggi besar, senyumnya yang tak pernah
lepas dari wajahnya, beliau selalu tepat waktu dalam mengajar, meskipun
mahasiswanya telat namun beliau tak pernah marah. Saya teringat kata-kata
beliau, ketika itu mata kuliah kimia medisinal II pelajarannya tentang obat
kardiovaskuler, yang mana beliau selalu membawa salah satu obat
kardiovaskulernya. Dalam mengajarnya beliau selalu semangat untuk memberikan
ilmunya kepada mahasiswanya dengan suara yang parau, dan setiap mengajar beliau selalu berdiri di depan kelas tanpa pernah beliau duduk untuk menjelaskan materinya, meskipun badan yang tinggi besar itu terlihat gagah tetapi di dalam tubuhnya ada sebuah penyakit yang menggerogoti tubuh beliau. Beliau selalu memberikan
materi yang kiranya keluar dalam ujian, menurut saya itu salah satu cara beliau
agar mahasiswa tidak tidur di kelasnya dan juga memberikan semangat mahasiswa
untuk belajar mata kuliahnya karena beliau orangnya tak pernah marah. Meskipun
beliau seorang Profesor namun beliau selalu sederhana tak ada batasan antara
beliau dengan mahasiswanya.
Ini Cerita saya dengan Beliau :
Dan di hari sabtu 19 April 2014 beliau di
makamkan di makam keluarga UGM. Saya dan teman saya menghadiri acara pemakamanya
meskipun dalam perjalanannya banyak hal yang terjadi. Saya memang tak
beriringan dalam mengantar jenazah beliau, karena saya pada jam 9.30 baru
selesai ujian Kromatografi dan teman saya bilang kalau beliau akan dimakamkan
pada jam 10.00. Saya berpikir tak akan sempat waktu untuk menghadiri acara
pemakaman beliau, namun di dalam diri saya memiliki niat untuk mengantarkan
jenazah beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir sebagai bentuk
penghormatan saya kepada beliau. Beliau memang bukan wali dosen saya, tapi dia
dosen favorit saya.
Seketika saya dan teman saya langsung ke
makam keluarga UGM meskipun teman saya juga tidak tahu di mana tempatnya, namun berbekal
nama makamnya maka kami langsung ke UGM. Teman saya kira makam keluarga UGM itu ada di
UGM, namun perkiraannya salah. Lalu teman saya bertanya pada orang di sekitar
UGM, menanyakan alamat Makam keluarga UGM, akhirnya kami mendapatkan alamatnya di arah
ring road utara, namun ketika di persimpangan Gejayan ada razia gabungan
kendaraan, untungnya saya dan teman saya memiliki kelengkapan surat dalam
mengemudi. Namun teman saya sempat menanyakan makam keluarga UGM ke pada pak polisi yang
razia tadi, akhirnya kami mendapatkan informasi dari pak polisi tersebut bahwa
lokasinya tak jauh dari simpang tersebut dan di sebrang kanan jalan.
Ketika kami sampai di makam keluarga UGM, terlintas
di pikiran saya bahwa suasananya yang terasa sepi, kemungkinan acara
pemakamannya sudah selesai. Dalam benak saya, ada rasa kecewa karena tak bisa
melihat langsung proses pemakaman beliau, namun saya dan teman saya memiliki niat
untuk datang ke makam beliau meskipun acaranya selesai. saya berpikiran jika
makam beliau sudah di makamkan setidaknya saya akan berdoa di makam beliau.
Langkah kaki kami pun langsung menuju ke makam. Kami tak tahu makam beliau yang
mana, dan teman saya menanyakan seorang bapak yang ada di area makam keluarga UGM
tersebut, untuk menanyakan makam beliau di mana, namun bapak itu menjawab bahwa, beliau belum di makamkan. Langsung seketika kami terhenya, dalam pikiran saya,
kami belum terlambat. Tak lama kemudian iringan jenazah beliau sampai di tempat
pemakaman. Acara pemakaman pun tersebut berlangsung lancar dan hikmat.
Saya pikir ini seperti beliau
mengajarkan saya tentang sebuah niat meskipun beliau sudah meninggal namun saya
merasakan beliau lah yang mengajarkan tentang sebuah niat ini. Mungkin ini
adalah pelajaran terakhir dari beliau kepada saya bahwa sesuatu yang niatnya
baik pasti akan mendapatkan hal yang baik. Terima kasih Pak Prof Mulyadi atas
semua pelajaran yang engkau berikan kepada saya dan semua mahasiswa yang engkau
ajarkan. Semoga ilmu yang bermanfaat yang beliau berikan akan menjadi amal
jariyahnya dan semoga segala amal ibadah dan kebaikan beliau di terima disisi-Nya.
Amiiin Ya Rabbal Alamin,,,,,,,,,,,
Jumat, 11 April 2014
I Don't Know Why
Sekarang hari apa?
Dan bulan apa?
Aku tak bisa mengejar dan aku tak bisa mundur
Jarum jam ini rasanya tak pernah berputar
Aku tlah kehabisan begitu banyak waktu
Semua yang ingin kukatakan
Tak juga bisa keluar
Aku kehabisan kata-kata
Kau membuatku bingung
Aku tak tahu kemana harus pergi dari sini
Kini ada sesuatu tentangmu
Yang tak bisa kupahami
Apapun yang kamu lakukan itu benar
Minggu, 06 April 2014
ITU KAMU
Semua orang bisa marah itu perkara mudah
tapi untuk dapat marah pada orang yang tepat
dan kadar yang tepat dan pada waktu yang tepat
untuk tujuan yang tepat dan dengan cara yang tepat
tidak semua orang dapat melakukannya
dan itu bukanlah hal yang mudah.
Tapi dalam hidup, akan ada seseorang yang sabar
dan kamu membencinya, dan dia masih saja mencinta hatimu
Kamis, 09 Januari 2014
MY LIFE MY RULES
“Jika aku bicara sekarang, dan sebagian lagi akan menyalahkan saya,”.
“Tetapi sebagian lagi akan memaklumi dunia. Dan mereka akan memetik hal yang baik dari kemakluman itu atau hanya keburukannya,”.
“Maafkan saya lebih baik diam,”.
“Jika saya bersuara sekarang, maka itu hanya membuat saya sedikit terlihat lebih baik,”.
“Dan beberapa lainnya terlihat lebih buruk sebenarnya. Maka saya lebih baik diam,”.
“Jika saya berkata sekarang. Maka hanya ada caci maki memuakkan serta semua hina pada keadilan. Maka saya lebih baik diam,”.
“Saya hanya akan berkata pada Tuhan, bersuara pada yang berhak, berkata pada diri sendiri, lalu diam kepada yang lainnya,”.
“Lalu biarkan seleksi Tuhan bekerja pada hati setiap orang,”.
“Tetapi sebagian lagi akan memaklumi dunia. Dan mereka akan memetik hal yang baik dari kemakluman itu atau hanya keburukannya,”.
“Maafkan saya lebih baik diam,”.
“Jika saya bersuara sekarang, maka itu hanya membuat saya sedikit terlihat lebih baik,”.
“Dan beberapa lainnya terlihat lebih buruk sebenarnya. Maka saya lebih baik diam,”.
“Jika saya berkata sekarang. Maka hanya ada caci maki memuakkan serta semua hina pada keadilan. Maka saya lebih baik diam,”.
“Saya hanya akan berkata pada Tuhan, bersuara pada yang berhak, berkata pada diri sendiri, lalu diam kepada yang lainnya,”.
“Lalu biarkan seleksi Tuhan bekerja pada hati setiap orang,”.
Langganan:
Postingan (Atom)

